ingsun alam sejati ... iman sejati ... islam sejati
 
Kamis, 09 September 2010 • 30 Ramadhan 1431 Hijriah
indonesia
Dirgahayu RI
marhaban yaa ramadhan
 selamat hari raya idul fitri
Jasa Pengecatan Motif Petir
Melayani jasa pengecatan rumah, bangunan, tiang, pagar, kusen, taman dan CAT PETIR/DEKORASI untuk wilayah kota Palembang dan sekitarnya
Hub: SALIN - 085267076558
Notaris Rumiati Laila, SH
Jl. Letjen H. Alamsyah Ratu Prawira Negara No. 12 - Bukit Baru Palembang 30139 - Telepon (0711) 446050

 
Pasang Iklan
yahoo messenger status
infokito on facebook
 

Jadwal Sholat

Perkiraan Cuaca Kota Besar di Indonesia

sumber: bmg.go.id
Home arrow Blog arrow Menapaki Sejarah Berdirinya Eks Lokalisasi Teratai Putih

selamat datang di portal infokito network - jembatan informasi kito                -- Info Terpadu Kota Palembang --          
Menapaki Sejarah Berdirinya Eks Lokalisasi Teratai Putih PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Info Palembang - Sejarah Palembang
Sunday, 20 June 2010

Prostitusi terselubung mungkin cukup banyak beredar di kawasan metropolis. Namun, kawasan terbesar lokalisasi yang mempunyai nama besar tetap saja disandang eks lokalisasi Teratai Putih, akrab disebut Kampung Baru. Bagaimana awal berdirinya tempat untuk mencari kenikmatan sesaat ini?

Nama Kampung Baru berada di kawasan Km 8, Kelurahan Sukarami, Kecamatan Sukarami Palembang mempunyai makna sendiri. Nama tersebut diistilahkan masyarakat karena terjadinya perpindahan kawasan prostitusi dari Lrg Bambu, Jl Duku, Kelurahan 8 Ilir menuju tempatnya saat ini Km 8, Kecamatan Sukarami. Perpindahan tersebut terjadi sekitar tahun 1973.

"Dulu kawasan Kampung Baru masuk Kabupaten Muba. Karena ada perpindahan tersebut, lokalisasi Teratai Putih diistilahkan menjadi Kampung Baru. Maksudnya kampung yang baru dibangun," ungkap M Irwan, ketua RT 15, Kelurahan 8 Ilir Duku, Kecamatan IT II dibincangi Sumeks Minggu, Selasa (15/6) lalu.

Lorong Bambu
Inilah Lrg Bambu yang kini berganti nama Lrg Satya Warga
di 8 Ilir IT II, cikal bakal terbentuknya Kampung Baru [Foto: Budiman/Sumeks Minggu]

Sejak perpindahan tersebut, sejatinya Lrg Bambu sudah berganti nama menjadi Lrg Satya Warga. Jl Duku pun berganti menjadi menjadi Jl Bambang Utoyo. Namun, istilah Lrg Bambu tetap saja terkenal. Hingga kini, jika berjalan di kawasan IT II, masyarakat tetap saja mengingat nama lorong tersebut.

Terinspirasi Awak Kapal Sejak tahun 1965, bisnis prostitusi di Lrg Bambu sudah mulai merebak. Satu dua mucikari yang menyediakan anak asuhnya sudah beroperasi di kawasan yang dulunya rawa tersebut. Bisnis ini merebak karena banyaknya awak kapal dari Bom Baru, baik awak lokal hingga awak luar, ingin mencari hiburan. Musik, minuman hingga wanita.

Tahun 1968, bisnis ini makin ramai. Almarhum Hasan bin Acim ayah Irwan merupakan salah satu pendiri kawasan Lrg Bambu. Sejak dikelola secara professional mucikari yang menyediakan tempat terus berkembang. Pada lahan 2,5 hektar setidaknya terdapat 15 rumah bordir dikelola mucikari. Sekitar 40 wanita, umumnya berasal dari Jawa Barat (Jabar) dan Jawa Timur (Jatim) bekerja sebagai PSK.

Sejak berdirinya kawasan tersebut, perekonomian di Lrg Bambu terus menggeliat. Kawasan yang dulunya hutan rawa makin ramai ditempati penduduk. Lapangan pekerjaan seperti pedagang, tukang becak, pencuci pakaian dan banyak lainya mendorong masyarakat berdatangan di kawasan tersebut. Dengan alasan makin ramainya penduduk di kawasan tersebut, prostitusi di Lrg Bambu akhirnya dipindah oleh Pemerintah Daerah (Pemda) menuju km 8. Saat ini, Lrg Satya Warga yang dulunya Lrg Bambu sedikitpun tidak menampakan diri sebagai kawasan prostitusi. Kawasan kini dihuni penduduk, mayoritas keturunan Cina.

Jauh Dari Pembangunan

Masuk di kawasan km 8, Kecamatan Sukarami, para mucikari membangun kawasan dari nol. Pasalnya, kawasan tersebut dulunya termasuk hutan belukar. Namun, sekitar lima tahun, geliat ekonomi sudah mulai nampak. Selain prostitusi, lapangan pekerjaan lain mendorong masyarakat mencari rezeki di kawasan tersebut. Terlebih, dari status kawasan tersebut dilegalkan.

Kampung Baru
Kondisi di dalam eks lokalisasi Teratai Putih
Kampung Baru yang kelihatan kumuh. Sejak penutupan
tahun 2001 lalu, pembangunan jalan lingkungan serta
PDAM tidak pernah menyentuh kawasan ini [Foto: Budiman/Sumeks Minggu]

Darman, koordinator keamanan Kampung Baru mengingat, ketika status Kampung Baru dilegalkan kawasan ini dibina oleh Dinas Sosial. Beragam keterampilan seperti salon, menjahit diajarkan kepada mucikari dan PSK. Hingga pada tahun 2001, lokalisasi ini ditutup secara resmi dengan dibentangkanya plang besar di lorong masuk.

Plang Kampung Baru
Plang menyatakan penutupan lokalisasi Teratai Putih
terpampang lebar di pintu masuk sejak tahun 2001 lalu. Di
dalamnya, bisnis prostitusi tetap saja berjalan
[Foto: Budiman/Sumeks Minggu]

Diakui Darman, Pemda sudah cukup memberikan sosialisasi sebelum penutupan. Menurutnya, sejak tiga tahun sebelum terjadi penutupan, para PSK diberikan keterampilan. Saat penutupan, mereka diberikan biaya untuk pulang ke daerah asalnya. Karena sulit mencari pekerjaan, para PSK kebanyakan kembali lagi menekuni pekerjaan asalnya.

Begitu juga para mucikari. Sebelum penutupan, mereka diberikan modal oleh Pemda untuk beternak. Namun, saat itu, hanya sebagian mucikari yang menerima dana. Sebagian mucikari tidak begitu mengetahui dan tidak mau tahu karena tetap ingin bertahan di kawasan tersebut. "Yang tidak mau mengambil dana tetap bertahan. Yang mengambil dana kebanyakan menjual rumah dan tanah, benar-benar keluar dari kawasan ini," ungkapnya.

Alhasil, meski resmi ditutup operasionalnya tetap berjalan. Dari sekitar 100 Kepala Keluarga tergabung di dua RT,28 dan 29, para PSK yang diasuh oleh mucikari saat ini berkembang pesat dibanding ketika berada di Lrg Bambu. Saat ini, setidaknya terdapat 400 PSK menjajakan diri di kawasan tersebut.

Mereka umumnya berasal dari kawasan Jabar, Jatim dan Jateng. Memang ada wanita lokal dilihat Darman ikut menjajakan diri. Namun, status wanita lokal tersebut bukan sebagai anak asuh mucikari. Wanita lokal biasanya mencari mangsa di diskotek, bukannya duduk manis di depan rumah bordir. Di dalam Kampung Baru sendiri terdapat lima diskotek, Selebes, Nagoya, Bershanti, Star Bar serta Batara 2000.

Kampung Baru memang tak pernah sepi dari pengunjung. Meski begitu, semenjak ditutup tahun 2001 lalu serta maraknya prostitusi terselubung di metropolis kawasan ini makin tergerus. Karena statusnya yang ilegal, pembangunan di kawasan ini pun jauh tertinggal. Jalan masuk penuh lubang, membuktikan kawasan ini tak pernah tersentuh pembangunan. PDAM pun yang katanya telah merambah pinggiran Palembang, juga tak menyentuh kawasan ini.

Memenuhi kebutuhan air bersih penduduk masih mengandalkan mobil tangki. Hanya saja, masalah jalan para penduduk tampak kompak. Sedapatnya, mereka bergotong royong. Mengandalkan dana swadaya, jalan lingkungan mereka bangun sendiri. Satu keinginan mereka dapat hidup tenang dengan mengais rezeki di kawasn tersebut tanpa adanya ganguan. (wwn/sumeks)

Kata Kunci

palembang, kampung baru, teratai putih, sukarame, prostitusi, PSK

___dilihat 280 kali___

Pemutakhiran Terakhir ( Sunday, 20 June 2010 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Bagikan

iklan gratishubungi kamibuku tamupeta situssiaran radio islamikoran nasional
Jadwal Sholat Online

ingsun alam sejati ... iman sejati ... islam sejati