ingsun alam sejati ... iman sejati ... islam sejati
 
Kamis, 09 September 2010 • 30 Ramadhan 1431 Hijriah
indonesia
Dirgahayu RI
marhaban yaa ramadhan
 selamat hari raya idul fitri
Jasa Pengecatan Motif Petir
Melayani jasa pengecatan rumah, bangunan, tiang, pagar, kusen, taman dan CAT PETIR/DEKORASI untuk wilayah kota Palembang dan sekitarnya
Hub: SALIN - 085267076558
Notaris Rumiati Laila, SH
Jl. Letjen H. Alamsyah Ratu Prawira Negara No. 12 - Bukit Baru Palembang 30139 - Telepon (0711) 446050

 
Pasang Iklan
yahoo messenger status
infokito on facebook
 

Jadwal Sholat

Perkiraan Cuaca Kota Besar di Indonesia

sumber: bmg.go.id
Home arrow Blog arrow Menilik Sejarah Gending Sriwijaya

selamat datang di portal infokito network - jembatan informasi kito                -- Info Terpadu Kota Palembang --          
Menilik Sejarah Gending Sriwijaya PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Info Palembang - Sejarah Palembang
Sunday, 20 June 2010

Dalam catatan artikel yang ditulis oleh Sulaiman Ma’ruf di harian Suara Rakyat, edisi Senin, 17 Oktober 1983, disebutkan bahwa menjelang tahun 1943, Kolonel Matsubara, Kepala Pemerintahan Umum Kantor Syu Sei Tyo Palembang atas nama Syu Tyokan meminta kepada O.M. Shida agar Jawatan Penerangan Jepang (Hodohan) membuat lagu Kebesaran Indonesia untuk menyambut kedatangan orang-orang besar Jepang dalam suatu acara resmi.

Usaha ini disampaikan kepada M.J. Su'ud sebagai salah satu pejabat Hodohan. Tetapi niat ini belum kesampaian karena dia keburu ditangkap oleh Kem Pe Tai, karena dianggap ikut terlibat dalam peristiwa pemberontakan rakyat “Air Hitam” Musi.

Barulah pada bulan Oktober 1943, gagasan mencari lagu itu diajukan lagi oleh Letkol O.M. Shida kepada Nungtjik A.R., pengganti M.J. Su'ud sebagai Wakil Kepala Hodohan. Nungtjik A.R. yang dikenal juga sebagai seorang sastrawan dan wartawan, mengajak Dahlan Mahibat, seorang komponis, putra Palembang asli, kelahiran guguk Sungi Tawar, kampung Sekanak agar bersama-sama menggarap lagu tersebut.

Sejak itu, Dahlan Mahibat bertekun siang dan malam selama tiga bulan, mulai bulan Oktober hingga Desember 1943. Sampai-sampai ia mengajukan izin untuk tidak aktif di kelompok bangsawan (toneel) Tiga Berlian pimpinan suami isteri Haji Gung, dimana sehari-harinya dia bekerja sebagai pemain biola dalam kelompok ini.

Dalam menggarap lagu pesanan Jepang ini, Dahlan Mahibat memadukan unsur lagu "Nina Bobo" Jepang yang diserahkan O.M. Shida sebagai contoh melodi dengan lagu "Sriwidjaya Djaya" yang digubahnya sendiri pada 1936. Lagu yang terakhir ini merupakan lagu yang mengagungkan kebesaran Kedatuan Sriwijaya.

Akhirnya, setelah mengalami proses revisi, lagu yang diberi judul "Gending Sriwijaya" ini rampung (1944) dan diserahkan Mayjen Shogawa (Maret 1945), kepala Hodohan ketika itu. Atas hasil yang memuaskan ini seorang kawannya menjulukinya sebagai AD Supratman, atau W.R. Supratmannya Sumsel.

Setelah penggarapan lagu selesai, dilanjutkan penyempurnaan syair oleh Nungtjik A.R. Sedangkan penggarapan gerak tari dan properti ditunjuk Miss Tina Haji Gung, dibantu oleh Sukaina A. Rozak. Pelatihan pertama melibatkan semua anggota dari kelompok Bangsawan Bintang Harapan.

Tari Gending Sriwijaya

Berbeda dengan lagu dan tari lainnya, untuk 'Gending Sriwijaya' tidak diiringi dengan gamelan, melainkan dengan alat-alat musik modern (pada waktu itu Jazz-Band). Konsep ini diserap dan dapat mewakili adat budaya Sumatra Selatan, misalnya: kuku penari yang dihiasi dengan tanggai berwarna keemasan diadopsi dari tari-tarian yang berada di wilayah Batanghari Sembilan yang umumnya memakai tanggai. Begitu juga property tepak yang berisi kapur sirih dan dipersembahkan kepada tamu merupakan tata cara masyarakat Melayu menyambut tamu secara resmi.

Berikutnya pada hari Kamis, tanggal 2 Agustus 1945, tarian ini digelar untuk pertama kali secara resmi dalam rangka menyambut pejabat-pejabat Jepang dari Bukit Tinggi yang bernama Moh. Syafei dan Djamaludin Adi Negoro. Pada saat itu, tarian dipimpin oleh Sukainah A.Rozak yang membawa Tepak Sirih, Gustinah A. Rachman dan Siti Nurani Asari selaku pengalung bunga (pengganti pridonan), dengan penari penari antara lain: Delima A.Rozak, Tuhfah, Busroh Yakib, RA Tuty Zahara Akib dan beberapa yang  lainnya.

Di masa Kemerdekaan RI, secara mantap Gending Sriwijaya dijadikan tarian untuk menyambut tamu-tamu resmi pemerintahan yang berkunjung ke Sumatra Selatan. Tetapi, tarian yang sudah mentradisi di pemerintahan ini, sempat tidak digunakan dalam acara resmi setelah peristiwa G. 30S PKI. Hal ini dikarenakan adanya desas-desus tentang Nungcik AR yang terlibat partai komunis.

Untuk kepentingan penyambutan resmi, waktu itu para penari menggunakan lagu Melayu yang berjudul 'Enam Saudara' (lagu pengiring Tari Tanggai), dengan gerakan yang meniru persis 'Gending Sriwjaya'. Kemudian tari-tari sambut ini dikenal dengan nama Tari Tepak (jika menggunakan Tepak, digelar dalam acara seremonial pemerintahan yang menyambut tamu biasa), dan Tari Tanggai (Untuk Resepsi pernikahan atau acara seremonial biasa).

Sementara itu, Ana Kumari yang berdasarkan permintaan Panglima Kodam II Sriwijaya, Ishak Juarsa, tahun 1968 membuat satu konsep Tari yang mengkompilasi gerakan Gending Sriwijaya dengan gerakan yang bernafas Palembang Darussalam. Judul Tari yang dibuat oleh Ana Kumari adalah Tari Tepak Keraton.

Ada semacam kesepakatan, bahwa Tari Gending Sriwijaya diperuntukkan untuk menyambut tamu-tamu agung (nomor satu dari satu negara atau satu daerah Provinsi). Sedangkan Tari Tanggai dengan lagu Enam Saudara, diperuntukkan untuk menyambut tamu-tamu yang bukan kepala Negara.

Untunglah, di Tahun 1969, pada pembukaan Jakarta Fair, lagu Gending Sriwijaya yang sudah termashur ini digelar kembali, meski tanpa syair. Sejak ini, Gending Sriwijaya terus digelar dalam perhelatan resmi dan bahkan telah menggunakan syair.***infokito.net

***disadur dari sebuah tulisan Vebri Al Lintani di harian sripo

Kata Kunci

gending sriwijaya, tari gending sriwijaya, tarian, sriwijaya, seni tari, lagu, enam saudara, tari tanggai, tari tepak, Tari Tepak Keraton

___dilihat 342 kali___

Pemutakhiran Terakhir ( Sunday, 20 June 2010 )
 
Berikutnya >
Bagikan

iklan gratishubungi kamibuku tamupeta situssiaran radio islamikoran nasional
Jadwal Sholat Online

ingsun alam sejati ... iman sejati ... islam sejati